Salahkah anak jika bandel?

20 04 2009

Edisi 1 Tahun 2009

Sering kami menerima orang tua yang mengeluh karena anaknya susah diatur dan tidak bisa diam dan duduk tenang. Biasanya orang tua ingin anaknya dapat duduk manis dengan tenang dan tidak banyak bertingkah, terlebih pada saat bertamu, atau di tempat umum.

Kami sangat mengerti bahwa sebagai orang tua, tidak ingin anaknya membuat masalah seperti memecahkan vas bunga milik orang lain pada saat bertamu. Dapat dibayangkan malu rasanya jika anak merusakkan benda milik orang lain. Betapa repotnya kita jika mengalami kejadian semacam itu.

Namun apakah anda sebagai orang tua mengerti apa yang sedang dipikirkan anak anda saat mulai sibuk dan banyak tingkah? Apa yang dirasakannya saat dia menyadari bahwa ia telah merusakkan benda milik orang lain?

Kita bahas lebih dahulu apa yang dipikirkannya saat mulai bandel. Sebagai seorang anak, jika ia dilahirkan dengan kecerdasan tinggi, biasanya setiap anak yang lahir normal sangatlah cerdas, pada saat ia melihat tempat baru dengan berbagai hal yang baru, ia mendapatkan berbagai ide baru. Ide-ide ini membanjiri pikirannya dan mendorongnya untuk segera mencoba dan mempelajari berbagai hal baru yang tampaknya mengasyikkan.

Ia akan melakukan beberapa percobaan seperti: mengamati; apakah situasi keamanannya baik untuk dia bermain? menguji hasil pengamatan; apakah betul-betul aman sesuai dengan kesimpulan pengamatan sebelumnya dengan cara mulai mendekati objek yang baru dikenalnya. Setelah yakin aman, ia akan mulai membiasakan diri dengan cara melakukan pengamatan dari objek baru tadi. Anak akan mencoba menyentuh, bicara, memanggil, teriak, berjalan atau berlari, bahkan teknik-teknik unik yang baru dikuasainya untuk mendapatkan kesimpulan baru. Semua hal tersebut dilakukan secara sistematis sama persis dengan yang dilakukan para peneliti di laboratorium, dan hebatnya anak-anak sudah mengetahui metode penelitiannya. Hasrat serta rasa penasarannyalah yang mendorong dia untuk melakukan penelitian dalam bentuk persiapan permainan.

Adalah wajar jika dalam proses penelitian mereka akan menemukan kesalahan. Secara alami anak akan menangis saat melakukan kesalahan. Misalnya memecahkan vas bunga kristal milik ibunya. Perlu anda ketahui, baik anak maupun orang dewasa saat menemui masalah karena berbuat salah akan berusaha mencari dukungan dengan cara meminta pertolongan. Jika anda yang menemui masalah, anda akan meminta nasehat ke orang yang anda kenal atau siapa saja yang ada. Tetapi anak kecil meminta tolong dengan cara yang berbeda.

Anak kecil akan menangis. Dia belum bisa bercerita bahwa dia melakukan kesalahan dan butuh pertolongan, jadi dia menangis. Saat menangis dia berharap orang tuanya akan datang menenangkan dirinya lalu memberitahu dia apa yang harus dia lakukan. Bagaimana perasaannya saat mengetahui bukan dukungan yang ia dapat tetapi bentakan karena ia ingin tahu sesuatu. Tentu saja ia kecewa.

Jika kekecewaan ini semakin banyak, ia akan berhenti penasaran selamanya. Ia akan berpikir berkali-kali untuk meminta tolong orang tuanya, dia akan sangat benci kesalahan. Maka hilang satu lagi anak cerdas di muka bumi ini.

Jadi sadarkah anda jika anak anda sangat cerdas dengan rasa ingin tahunya?

prodigy1.jpg

Bulletin Prodigy

Bulletin ini diterbitkan oleh Lembaga Pendidikan Optimasi Anak – Prodigy.

Pembina: Dicky Zainal Arifin.

Alamat: Jl. Suryalaya Barat 3C Bandung

Telp: 022-7308015

www.prodigy-school.com





Anak dan Egonya

7 04 2008

Edisi 6 Tahun 2008

Sering para orang tua mengalami hal-hal menjengkelkan dari perilaku anak. Biasanya orang tua akan mengingatkan pelan-pelan, bila si anak masih tidak menurut, ia akan berusaha membujuk. Lalu mereka akan mulai berdebat, bila orang tua sudah tidak mampu mengendalikan kesabaran, ia akan mulai berteriak hingga akhirnya memukul si anak. Thomas W. Phelan, Ph.D. menyebut fenomena ini sebagai “Talk-Persuade-Argue-Yell-Hit Syndrome” atau sindrom Bicara-Bujuk-Debat-Teriak-Pukul.

Orang tua selalu mengharapkan anak yang harus cepat tanggap dan menurut semua yang diperintahkan. Tapi apakah anda sebagai orang tua mengerti apa yang dipikirkan anak sehingga dia mengambil tindakan yang menjengkelkan? Sebenarnya hal ini hanya masalah sederhana saja jika orang tua mengetahui karakter ego seorang anak.

Setiap anak dilahirkan dengan bekal ego khusus yang disebut super-ego. Super-ego adalah naluri mengutamakan diri sendiri tanpa melihat kondisi orang lain. Tujuan ego jenis ini ialah untuk bertahan hidup dengan kemampuan yang ada.

Seorang bayi masih dalam tahap belajar apa pun termasuk komunikasi verbal dan non verbal. Alat komunikasi yang sering digunakannya adalah menangis. Seorang anak yang memiliki super-ego dapat langsung menangis jika kebutuhannya seperti ingin buang air atau sedang lapar harus dipenuhi, akan tetapi ia akan langsung menenangkan diri dengan berhenti menangis dengan tiba-tiba jika kebutuhannya sudah terpenuhi. Inilah gunanya super-ego.

Satu hal yang perlu kita perhatikan pada masalah super-ego adalah bahwa anak melakukan hal tersebut tanpa perasaan yang bersifat negatif, seperti kebencian, dendam atau keinginan untuk menyusahkan orang lain, dalam hal ini orang tua, ia cuma butuh sesuatu dan berusaha mendapatkannya.

Orang tualah yang seharusnya mendidik agar si anak dapat secara bertahap menurunkan ego serta mampu mengendalikannya. Perlu diingat bahwa anak belajar dari situasi yang dialaminya. Mereka mengingat kejadian menyenangkan maupun yang tidak. Jika ia mengalami kejadian menyenangkan, ia akan berusaha mencari cara agar ia dapat mengulang lagi kejadian itu.

Kejadian kecil seperti diperhatikan ayah/ibunya, merupakan hal yang hebat di matanya. Konsekuensinya, seringkali ada saat di mana si anak membuat jengkel orang tuanya hanya karena mencari perhatian mereka. Anak sedang belajar mencari cara yang baik dan mampu dilakukannya untuk mendapatkan perhatian orang tuanya. Bila sesekali ia melakukan kesalahan karena mencoba cara yang tidak baik, sangatlah wajar.

Janganlah merespon dengan tindakan keras seperti marah, membentak dan memukulnya. Cukup dengan menyadarkan anak bahwa cara yang ia tempuh salah. Dan untuk itu, diperlukan penyampaian berulang-ulang secara efektif hingga ia sadar. Orang tua sering tidak sabar dan tak mampu mengendalikan ego pada tahap ini.

Sudahkah kita menjadi teladan anak-anak kita dengan mampu mengendalikan ego kita?

prodigy1.jpg

Bulletin Prodigy

Bulletin ini diterbitkan oleh Lembaga Pendidikan Optimasi Anak – Prodigy.

Pembina: Dicky Zainal Arifin.

Alamat: Jl. Suryalaya Barat 3C Bandung

Telp: 022-7308015

www.prodigy-school.com





Pentingnya Membangun Rasa Aman Untuk Belajar

14 02 2008

Edisi 5 Tahun 2007

Bermain adalah dunia anak. Setiap anak akan meluangkan sebagian besar waktunya untuk bermain. Hal ini terbentuk secara insting. Nalurinya akan menggerakkan dia untuk bermain dan mencari tahu berbagai hal yang dilihat dan didengarnya. Lalu dia mencari tahu apakah hal baru itu bisa menyenangkan baginya.

Jika menyenangkan, ia akan menerima dan mempelajarinya. Jika ternyata tidak mengasyikkan, ia akan segera mengalihkan perhatiannya pada hal lainnya. Begitu selanjutnya, dia akan mencoba segala sesuatu secara trial and error sampai terpuaskan rasa ingin tahunya.

Anak belum dapat memilih mana permainan yang cocok untuknya. Karena menentukan pilihan juga merupakan hal yang dipelajari oleh anak-anak, maka orang tua perlu memilihkan permainan yang cocok untuk kebutuhannya.

Orang tua harus tahu manfaat dari berbagai jenis permainan bagi kebutuhan anaknya atau mereka dapat mengambil hikmah dari suatu permainan yang sedang dilakukan anak.

Jadi tidak perlu bingung bila anak anda yang berusia 2 tahun membanting atau melempar mobil-mobilan atau handphone yang dipegangnya. Dia membutuhkan sarana melatih otot lengannya. Nalurinya menggerakkan dia untuk melempar benda apa saja

sekuat tenaga. Kebetulan saja ayahnya memberikan handphone yang bobotnya pas untuk melatih otot lengannya, jadi dilemparnya HP itu sampai rusak.

Kalau saja ayahnya mengerti kebutuhannya, bukan HP yang masih bagus tetapi barang-barang yang dapat dilempar sekuat tenaga oleh anaknya. Atau HP yang sudah rusak total yang diberikan untuk dilempar.

Sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui kebutuhan dasar anak untuk belajar serta motivasi yang sedang menggerakkannya.

Rasa aman untuk melakukan berbagai hal yang ingin dilakukan merupakan salah satu faktor utama dalam belajar.

Jika saja sang ayah dalam cerita di atas memarahi si anak karena merusakkan handphonenya. Si anak akan berhenti melempar barang-barang lagi karena takut dimarahi, tetapi dia juga berhenti belajar menggunakan lengannya untuk melempar. Jika salah satu bakatnya ternyata melempar pisau, maka ayahnya telah membuat dia kehilangan salah satu

bakatnya yang berguna baginya untuk bertahan hidup di masa depan. Karena saat marah atau membentak, ayahnya menciptakan rasa tidak aman bagi si anak yang merusak semangat belajarnya.

Akibat negatif lain, si ayah telah mengajarkan rasa takut pada si anak. Padahal Allah telah memerintahkan agar kita hanya takut pada Allah, bukan yang lain. Rasa takut pada hal selain Allah akan menimbulkan rasa tidak aman yang menjadikan kita tidak membuat kemajuan.

Ketidakmampuan menumbuhkan rasa aman bagi seorang anak berakibat banyak hal negatif. Anak-anak nakal, pemalas, hingga pelaku kriminal adalah sebagian contohnya.

Rasa aman akan menumbuhkan percaya diri untuk berekspresi. Jadi mampukah kita merasakan jika anak sedang merasa tidak aman, lalu memberikan rasa aman yang dibutuhkannya?

prodigy1.jpg

Bulletin Prodigy

Bulletin ini diterbitkan oleh Lembaga Pendidikan Optimasi Anak – Prodigy.

Pembina: Dicky Zainal Arifin.

Alamat: Jl. Suryalaya Barat 3C Bandung

Telp: 022-7308015

www.prodigy-school.com





Kecerdasan Majemuk Pada Anak

14 02 2008

Edisi 4 Tahun 2007

Alkisah, pada suatu ketika para binatang besar di hutan ingin mengadakan sekolah bagi para binatang kecil. Para binatang besar itu ingin mengajarkan mata pelajaran yang dianggap penting untuk keberhasilan hidup di hutan, yaitu pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.

Tetapi, para binatang besar itu tak dapat sepakat untuk menentukan mata pelajaran mana yang paling penting. Sebagai keputusan, seluruh siswa diharuskan mengikuti seluruh mata pelajaran.

Saat sekolah dibuka dan menerima murid dari penjuru hutan, semuanya berbahagia. Semua berjalan lancar dan bergembira pada awalnya sampai suatu ketika terjadi peristiwa. Seekor kelinci kecil yang menjadi siswa di sekolah tersebut mengalami masalah. Tak ada seorang pun di hutan yang tak mengetahui bahwa kelinci terkenal piawai berlari. Tapi saat mengikuti kelas berenang, ternyata kelinci nyaris tenggelam. Pengalaman itu mengguncangkan kelinci. Dia berusaha terus berusaha mengikuti pelajaran berenang walaupun berada dalam trauma. Akibatnya, kelinci tak dapat lari secepat sebelumnya.

Demikian pun murid lain menghadapi masalah. Elang yang dikenal jago terbang ternyata menghadapi masalah dalam pelajaran menggali. Dia tak dapat berprestasi dalam pelajaran menggali sehingga harus belajar ekstra yang membuatnya melupakan keahlian terbangnya.

Demikianlah. Kesulitan demi kesulitan dialami oleh binatang-binatang kecil lainnya, seperti bebek, burung pipit, bunglon, ular, dan sebagainya. Para binatang kecil itu tidak memiliki kesempatan lagi untuk berprestasi dalam bidang keahlian mereka masingmasing. Ini lantaran mereka dipaksa melakukan hal-hal yang tidak menghargai sifat alami mereka.

Melalui ilustrasi di atas, kami coba gambarkan teori Multiple Intelligences dari Howard Gardner. Kecenderungan model pembelajaran di sekolah yang hanya mengembangkan dua jenis kecerdasan (kecerdasan bahasa dan logika) sering membuat anak-anak dinilai gagal.

Padahal, anak-anak yang dianggap gagal dalam sistem sekolah tersebut mungkin memiliki bentuk kecerdasan lain (kecerdasan ruang, kinestetis-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, naturalis). Walaupun mereka tidak cocok dengan sistem sekolah yang ada, bukan berarti mereka bodoh dan tak akan berhasil di masyarakat. Mereka hanya memiliki kecerdasan dan cara belajar yang berbeda dengan yang biasanya digunakan di sekolah pada umumnya.

Banyak sekolah dan pendidikan yang mencoba menerapkan teori Multiple Intelligences yang lebih menghargai keragaman bentuk kecerdasan dan gaya belajar anak yang menghargai dan mengembangkan anak secara individual.

Jika pengetahuan terhadap kondisi anak-anak ini dibawa ke dalam kesadaran, pengetahuan ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan sehingga anak-anak dapat mengoptimalkan potensi dirinya.

Jadi sejauh mana anak anda dihargai dan dikembangkan secara individual?

prodigy1.jpg

Bulletin Prodigy

Bulletin ini diterbitkan oleh Lembaga Pendidikan Optimasi Anak – Prodigy.

Pembina: Dicky Zainal Arifin.

Alamat: Jl. Suryalaya Barat 3C Bandung

Telp: 022-7308015

www.prodigy-school.com





Perlunya Berempati Saat Menyuruh Anak Belajar

14 02 2008

Edisi 3 Tahun 2007

Seringkali kita mendengar orang tua yang mengeluhkan anaknya yang tidak menurut setiap kali disuruh belajar. Padahal sudah berkali-kali dijelaskan padanya bahwa belajar itu untuk kebaikannya di masa depan. Bermacam cara sudah ditempuh

si orang tua agar si anak mau belajar dengan tekun. Mulai dari membujuknya baik-baik, memberi hadiah, sampai pada memarahi si anak, bahkan ada yang sampai harus memukulnya. Semua cara itu sudah ditempuh, tapi kenapa si anak tetap ogah-ogahan belajar?

Sebenarnya hal ini dapat diatasi jika orang tua si anak dapat berempati padanya. Berempati pada si anak adalah mampu memahami perasaan dan cara berpikirnya. Apa yang menyebabkannya tidak mau belajar? Apa yang sedang dikerjakannya? Apa yang sedang dibutuhkannya? Orang tua seharusnya dapat mengetahui hal-haltersebut di atas.

Biasanya seorang ibu sangat mampu berempati pada anaknya saat si anak masih bayi. Ia mengerti apa yang diinginkan bayinya meskipun si bayi hanya mampu menangis. Namun kemampuan ini semakin jarang digunakan saat si anak mulai mampu berbicara dan mengungkapkan keinginannya. Si ibu semakin sering mengatur si anak tanpa berusaha berempati lagi padanya.

Reaksi pertama si anak saat menghadapi situasi di mana orang tuanya mulai tidak mengerti keinginan dan kebutuhannya adalah dengan menangis. Ia belum bisa mengutarakan apa yang dia mau karena mengutarakan keinginan adalah termasuk hal yang belum dikuasainya.

Jika orang tuanya justru memarahi dia, dia akan menurut. Tetapi dia menurut supaya dia tidak lagi dimarahi. Jadi bukannya belajar pelajaran tapi malahan belajar berpura-pura, berbohong serta bermacam taktik lain untuk mendapatkan keinginannya. Jika hal ini yang terjadi bertahun-tahun, tidaklah mengherankan jika saat ia dewasa dia menjadi orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Tanpa disadari, justru orang tuanyalah yang membentuk karakter ‘jahat’ dalam diri seorang anak.

Orang tua seharusnya dapat terus berempati pada anak hingga ia dewasa. Anak perlu diperkenalkan secara baik-baik pada dunia belajar. Bagaimana mengasyikkan dan indahnya dunia belajar. Emosi yang timbul saat berusaha mencari tahu sesuatu, serta serunya saat-saat dia menemukan hal-hal baru dengan usahanya sendiri. Hal-hal tersebut yang perlu dikenalkan pada sang anak melalui keteladanan.

Tunjukkan padanya bahwa orang tuanya betul-betul suka belajar dan terus belajar. Janganlah menyuruhnya belajar sementara orang tuanya menonton film dan sinetron di televisi serta tidak pernah terlihat sibuk belajar. Lalu pahami bahwa mood anak belajar dapat naik-turun. Saat mood-nya turun janganlah memaksanya belajar tetapi mengemas belajar ke dalam kegiatan yang hendak dilakukannya. Orang tua memang harus siap mengorbankan berbagai kesenangan untuk mendidik anak.

Jadi siapkah anda berempati pada anak serta mengorbankan kesenangan untuk memberi keteladanan?

prodigy1.jpg

Bulletin Prodigy

Bulletin ini diterbitkan oleh Lembaga Pendidikan Optimasi Anak – Prodigy.

Pembina: Dicky Zainal Arifin.

Alamat: Jl. Suryalaya Barat 3C Bandung

Telp: 022-7308015

www.prodigy-school.com





Menangani Keunikan Anak

14 02 2008

Edisi 2 Tahun 2007

Pada edisi sebelumnya dijelaskan bahwa setiap anak adalah unik, serta orang tua perlu bisa berempati untuk mendidik mereka.

Salah satu keunikan yang dimiliki setiap anak misalnya adalah kemampuan indera yang berbeda. Perbedaan ini dilihat dari daya tangkap mereka dalam menggunakan indera mereka. Ada anak yang mempunyai daya tangkap lebih bila menggunakan indera penglihatan, ada yang dengan indera pendengaran, sementara yang lain dengan indera peraba, penciuman, pengecap dan kombinasi masingmasing indera.

Selain itu ada anak yang daya tangkapnya kuat dengan menggunakan indera pada kelenjar pituitary-nya.

Kelenjar pituitary adalah kelenjar di bawah otak yang berfungsi sebagai indera penerima sinyal dan gelombang, kelenjar ini lazimnya disebut sebagai indera keenam.

Perbedaan daya tangkap ini yang menyebabkan perbedaan gaya belajar pada setiap anak. Untuk anak yang bagus pada indera pendengarannya, ia akan lebih suka mendengar dan menyimak serta menyukai suasana tenang saat belajar. Ini adalah cara anak belajar yang disukai guru pada umumnya. Anak tipe inilah yang menjadi standar ciri-ciri pelajar dan murid yang baik.

Anak yang bertipe visual lebih kuat mengingat apa-apa yang dilihatnya daripada yang didengar. Anak seperti ini tidak mudah terpengaruh keributan, dan mudah bosan bila mendengar ceramah.

Yang sering disalahartikan sebagai ‘anak nakal’ adalah anak yang mempunyai tipe belajar kombinasi antara indera visual dan peraba yang termasuk juga kemampuan bergerak. Biasanya anak tipe ini cerewet jika bercerita. Anak-anak ini baru dapat belajar jika fisik mereka ikut terlibat saat memperhatikan. Mereka sulit belajar jika harus diam mendengarkan. Mereka merasa belajar itu harus disertai kegiatan seperti berlari-lari, berteriak,melompat, berjoget dan lainnya.

Setiap anak mempunyai gaya belajarnya masing-masing. Naluri merekalah yang menggerakkan mereka pada gaya belajarnya.

Apapun tipe belajar seorang anak, ia akan belajar jika sedang mengalami suatu kegiatan secara langsung. Dan daya tangkapnya dalam belajar akan semakin kuat jika ia sedang merasa senang dan gembira.

Sebaliknya, jika seorang anak ditekan untuk belajar, kegembiraannya akan lenyap dan daya tangkapnya dalam belajar akan melemah secara drastis, akibatnya ia tidak belajar apa-apa kecuali rasa kecewa dan mencari taktik untuk menghadapi masalah serupa di masa depan.

Oleh karena itu, kita perlu menjaga kegembiraan seorang anak saat ia sedang aktif melakukan suatu kegiatan. Karena dengan cara demikian ia akan mengalami proses belajar yang optimal.

Jadi, siapkah anda mengetahui dan menghadapi cara belajar yang unik dari anak anda?

prodigy1.jpg

Bulletin Prodigy

Bulletin ini diterbitkan oleh Lembaga Pendidikan Optimasi Anak – Prodigy.

Pembina: Dicky Zainal Arifin.

Alamat: Jl. Suryalaya Barat 3C Bandung

Telp: 022-7308015

www.prodigy-school.com





Setiap Anak Adalah Unik

14 02 2008

Edisi 1 Tahun 2007

Ya, setiap orang diciptakan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sidik jari yang dimiliki setiap orang tidak ada yang sama. Pola retina mata setiap orang juga unik, tidak ada dua orang yang memiliki sidik jari atau retina yang betul-betul identik.

Sebenarnya keunikan ini juga berlaku pada hal lain selain sidik jari dan retina mata. Bakat alami misalnya, setiap orang sebenarnya mempunyai bakat alami yang hanya dimiliki oleh dia sendiri, yang berbeda dengan bakat orang lain. Memang terdapat kemiripan dengan orang lain, tetapi sama sekali tidak sama.

Allah menganugerahkan bakat serta kemampuan yang berbeda kepada setiap orang dengan tujuan agar orang tersebut dapat saling berinteraksi yaitu dalam hubungan saling membutuhkan. Jika ada banyak orang yang mempunyai kemampuan yang benar-benar sama, maka seseorang dapat dengan mudah memutuskan tali silaturahmi dengan orang lain. Toh ada orang lain yang sama yang dapat menggantikannya.

Bagaimana caranya agar kita dapat mengetahui bakat seseorang? Lalu bagaimana caranya mengelola bakat tersebut? Mengapa kebanyakan orang seolah-olah tidak mempunyai bakat apa-apa?

Hal tersebut diakibatkan dari penanganan yang tidak tepat atas seorang anak. Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya di bidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber seorang wartawan terkemuka, pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu sebelumnya.

Apa yang terjadi pada William James Sidis? Apakah tidak cukup ijazah Harvard College yang dimilikinya untuk mencari pekerjaan?

Sebenarnya hal yang tampak bagi orang lain sebagai bakat yang mengagumkan yaitu matematika, hanyalah salah satu faktor pendukung hidupnya. Masih ada kemampuan lain yang William James Sidis miliki yang tidak sempat diasah karena orang-orang sekitarnya terlanjur memaksanya belajar matematika. Padahal belum tentu William James Sidis menyukai belajar matematika.

Bagaimana caranya agar kemampuan yang lain dapat muncul hingga terlihat bakat-bakat yang dimiliki seorang anak?

Dalam berkomunikasi dengan anak tidak cukup hanya dengan bahasa verbal saja, kita juga memerlukan bahasa non verbal, dalam hal ini kemampuan berempati terhadap si anak. Jika kita dapat memahami keinginan si anak secara empati, rasa percaya diri serta kemampuan menentukan pilihan si anak akan tumbuh. Kedua kemampuan inilah yang membuat si anak dapat menunjukkan bakat-bakat dan kemampuannya kepada orang lain.

Yang menjadi masalah berikutnya adalah sejauh mana orang tua dapat berempati terhadap anak.

prodigy1.jpg

Bulletin Prodigy

Bulletin ini diterbitkan oleh Lembaga Pendidikan Optimasi Anak – Prodigy.

Pembina: Dicky Zainal Arifin.

Alamat: Jl. Suryalaya Barat 3C Bandung

Telp: 022-7308015

www.prodigy-school.com